Minggu, 31 Maret 2013

musik daerah

MUSIK DAERAH


A. Ragam Musik Tradisi Daerah
Budaya daerah-daerah di Indonesia sangat beragam, termasuk seni musiknya. Menghadapi kenyataan ini, kita hendaknya saling menghargai keragaman budaya musik tiap daerah. Seni musik daerah ini biasanya merupakan bagian dari adat dan upacara-upacara tradisi setempat. Sehingga, tiap daerah memiliki musik yang khas. Karena cirinya yang berbeda-beda antar daerah, musik tradisi ini disebut juga musik daerah. Musik daerah ini diwariskan dari generasi ke generasi berpadu dengan kegiatan sehari-hari, termasuk upacara adat. Namun, dengan derasnya arus budaya asing yang masuk, proses ini kini sering terganggu. Generasi berikutnya banyak yang tidak lagi mengenal budaya khas daerahnya. Padahal, budaya khas ini justru sangat menarik bagi orang asing baik itu wisatawan maupun budayawan yang mengerti nilai luhur artistiknya sehingga dapat menjadi aset pariwisata dan pengetahuan yang berharga. Menurut sifat dan keberasalannya musik tradisi daerah dibagi menjadii dua, yaitu musik rakyat dan musik klasik. 


1. Musik Rakyat 
Musik rakyat merupakan musik daerah yang lahir dan diolah oleh masyarakat pedesaan, hidup dan berkembang di tengah-tengah rakyat, disukai rakyat biasa, dan tersebar sampai ke rakyat jelata. Musik rakyat merupakan perwujudan hidup rakyat. Kehidupan dan hubungan mereka yang akrab terlihat dalam lagu-lagu dan musiknya yang seringkali meriah dan melibatkan banyak orang dalam pertunjukannya. Ciri utama dari musik rakyat yakni memiliki bentuk dan teknik yang sederhana serta tidak dikenal penciptanya (NN= No Name). musik rakyat menyebar secara alami dan disampaikan secara lisan dan turun temurun. Tema musik rakyat banyak mengambil dari kehidupan sehari-hari masyarakat dan mudah ditemui dalam berbagai kegiatan rakyat. Contoh musik rakyat misalnya musik untuk pernikahan, kematian, berladang, berlayar, menenun, dan sebagainya.
2. Musik Klasik
Musik tradisional klasik merupakan musik rakyat pilihan yang dikembangkan di pusat-pusat pemerintahan masyarakat lama seperti ibukota kerajaan atau kesultanan. Banyak dari ibukota lama ini sekarang menjadi ibukota provinsi atau kabupaten. Sehingga, tempat-tempat tersebut sekarang menjadi pusat pembinaan seni budaya daerah. Seni tradisional klasik memiliki pembawaan lebih agung dibandingkan seni kerakyatan. Ini dikarenakan musik klasik mempunyai fungsi yang lain, yakni diterapkan pada upacara-upacara adat kerajaan. Musik ini merupakan musik ciptaan komponis serta telah tertata dengan aturan-aturan yang baku. Seperti, pemakaian notasi, aturan syair, penggayaan vocal (cengkok), ritme, dan instrumen yang didasarkan pada konsep tertentu menurut gaya suatu daerah. Gaya inilah yang membedakan musik daerah satu dengan daerah lain. Misalnya musik gamelan Jawa berbeda dengan gamelan Sunda maupun gamelan Bali. Begitu pula musik daerah Batak Karo dengan Mandailing, dan sebagainya. 

B. Fungsi Musik 
Secara umum musik memang berfungsi sebagai media rekreatif/hiburan untuk menanggalkan segala macam kepenatan dan keletihan dalam aktivitas sehari-hari. Dalam fungsi sosial budayanya, musik daerah memiliki fungsi sebagai berikut. Musik daerah bukan hal yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari kegiatan lain. Bunyi-bunyian seringkali dianggap punya kekuatan gaib sehingga digunakan sebagai sarana upacara adat. Contohnya sebagai pengiring roh dalam upacara Merapu di Sumba dan musik angklung dalam upacara Seren Taun (panen padi) di Sunda. 
Irama musik juga berpengaruh pada perasaan seseorang dalam melakukan gerakan indah, sehingga musik menjadi pengiring tari dan pertunjukan. Tari dan pertunjukan daerah itu pada dasarnya hanya dapat diiringi dengan musik daerah tersebut. Misalnya musik gamelan pengiring tari dan pertunjukan wayang di Pulau Jawa dan Bali juga musik melayu pengiring tari melayu dan pertunjukan mak yong di Riau. 
Lagu-lagu rakyat (folksongs) yang tumbuh subur di pedesaan juga banyak dipakai sebagai media bermain. Contohnya Cublak-Cublak Suweng dari Jawa Tengah, Ampar-Ampar Pisang dari Kalimantan, dan Pok Ame-Ame dari Betawi. 
Bunyi-bunyian termasuk musik, sudah lama menjadi media komunikasi bagi bangsa Indonesia. Irama kentongan, bedug, lonceng, dan alat musik sederhana dipakai sebagai pertanda atau pemberitahuan khusus ke masyarakat akan bencana alam, pencurian, atau pertemuan desa. Tiap pesan memiliki irama khas yang berbeda-beda. 
Selain itu, kini lagu-lagu dalam aneka iklan layanan masyarakat maupun lagu populer dipakai sebagai media penerangan. Lagu tentang pemilu, imunisasi, juga lagu bernapaskan agama menjalankan fungsi ini. 

C. Aktivitas Musik 
Dalam aktivitas musik terdapat tiga peranan penting yang tidak dapat diabaikan dan tidak dapat dipisahkan, yaitu komponis, pemain dan pendengar (penikmat). Tiga peranan tersebut terbentuk oleh lingkungan masyarakat yang berbeda sehingga aktivitas musiknya pun bisa berbeda. Dari aktivitas musik ini akan tampak gambaran tatanan masyarakat tersebut. 
1. Komponis 
Dalam tradisi musik daerah, banyak sekali karya musik yang dibuat oleh beberapa orang komponis yang biasanya merupakan pemain musik senior. Ini menggambarkan prinsip kerja sama dan gotong royong. Meskipun ada sistem notasi, komponis ini biasanya menyampaikan lagunya secara lisan. Para pemain menghafalkannya untuk latihan dan pertunjukan. Demikian tradisi lisan diteruskan ke generasi selanjutnya. Maka, tak heran jika pemusik daerah (termasuk para pembuat alat musiknya) memiliki kepekaan pendengaran dan rasa musik yang tinggi. Puluhan bahkan ratusan lagu dapat dikuasai tanpa partitur (naskah notasi).




2. Hubungan Antar pemain Musik 
Pemain instrumen daerah kadang mempunyai nama/istilah tertentu. Misalnya di Jawa-Sunda, wiyaga (musikus) merupakan sebutan untuk orang yang memainkan waditra (instrumen musik). Pemain musik dalam sebuah kelompok musik daerah, memiliki keterampilan yang bervariasi. Seorang pemula akan belajar dari alat musik yang paling sederhana, lalu yang lebih sulit, sampai yang paling rumit. Sehingga, seorang pemain senior menguasai seluruh alat musik. Pemusik yang paling senior biasanya juga memimpin pertunjukan. Ia memberi kode tempo dan ekspresi sekaligus menjadi perantara komunikasi antar pemain. Tingkatan keterampilan yang berbeda-beda ini menunjukkan sistem tatanan masyarakat, yaitu bahwa pemimpin memahami dan dapat mengatur seluruh bidang kehidupan (instrumen) dan tiap bidang (pemusik dengan instrumen tertentu) memainkan perannya masing-masing yang saling mengisi sehingga tercipta keharmonisan kehidupan (lagu). Hal ini berbeda dengan orkestra barat yang mempunyai pemimpin khusus (conductor/dirigen). Jadi, dalam permainan musik daerah perlu disiplin dan kerjasama yang baik antarpemain agar pertunjukan indah dapat disajikan. Para pemain perlu saling mendengarkan dan menjaga agar bunyi instrumen masing-masing selaras dengan baik dan tidak mengganggu bunyi instrumen lain, sesuai komposisi. Hal ini merupakan lambang dari kehidupan masyarakat yang saling menjaga perasaan dan mengedepankan sikap tenggang rasa. 
3. Penikmat Musik 
Dalam musik tradisi klasik, pendengar bersifat pasif. Mereka hanya mendengarkan, lalu apresiasi dan kritik seni setelah selesai pertunjukan. Dalam musik rakyat, penikmat lebih aktif. Mereka bisa ikut bernyanyi, bertepuk tangan, bahkan menari dan menimpali peran pemain sandiwara rakyat. Pendengar bisa menghidupkan suasana pertunjukan. Apresiasi dan kritik seni bisa dilakukan saat pertunjukan berlangsung. 

Musik Lesung Kegiatan masa panen padi membuahkan suatu bentuk kesenian yang unik. Saat menumbuk padi di lesung terbentuk irama istimewa. Pola irama ini lambat laun berkembang menjadi bentuk musik lesung. Musik ini tak hanya dimainkan ketika menumbuk padi, tapi juga pada acara-acara seputar masa panen dengan lesung yang kosong/tanpa padi. Musik lesung yang sering juga di sebut kotekan ini dimainkan oleh beberapa orang yang terbagi menjadi setidaknya dua kelompok. Setiap kelompok membunyikan irama yang berbeda dan saling bersahut-sahutan. Didaerah jawa, pola irama musik lesung ini disebut dengan chat atau cah yang berasal dari kata cacah yang berarti hitungan atau sesuatu yang dipilah-pilah. Cah 3 artinya tiap pemain memainkan tiga ketukan/tumbukan dalam satu pola irama. Tingkat kesulitan pemain musik lesung ini bukan terletak pada irama yang dimainkan masing-masing pemain, melainkan pada kerja sama ritme yang musikal. 


Saung Udjo 

Udjo Ngalagena adalah seorang pemerhati kesenian angklung. Tergerak oleh keinginannya melestarikan dan mengembangkan kesenian ini. Ia membuka Saung Angklung Udjo di daerah Padasuka, Bandung. Saung ini menjadi pusat pelatihan dan pengembangan musik angklung serta menjadi salah satu objek wisata budaya. Untuk program wisata, Saung Udjo menggelar berbagai pertunjukan musik angklung yang dipadukan dengan alat musik lain, seperti terbang dan gamelan Sunda serta tari-tarian tanah Parahiangan. Udjo Ngalagena Aktivitas dalam saung Udjo Pak Udjo menyebut sistem angklung yang dilatihnya di sana sebagai angklung Sunda dan angklung Indonesia. Angklung Sunda menggunakan tangga nada pentatonik, sedangkan angklung Indonesia menggunakan tangga nada diatonis.

D. Tokoh Musik dan Komposisi Daerah 
Setiap daerah memiliki tokoh musik dan komponisnya. Mereka ini membentuk, mengembangkan, dan melestarikan karya seni musik daerah tempat tinggal mereka. Berbagai unsur seni musik mereka pertahankan dan kembangkan, seperti notasi musik daerah, pola irama, syair, alat musik, dan satuan pertunjukan. Berikut ini ada contoh beberapa tokoh musik daerah dan sumbangannya bagi seni kedaerahan. Bagaimana dengan daerahmu? 
Musik gamelan Sunda yang dikembangkan dengan sistem notasi da, mi, na, ti, la, oleh Raden Mahyar Angga Koesoemadinata, juga Mengkuko (Koko Koeswoyo).
Angklung Sunda dikembangkan dengan sistem tangga nada diatonis (do re mi fa sol la si) oleh Daeng Soetikna dan Imam Sukayat. Mereka juga membuat variasi bentuk angklung yang memberi warna nada dan nuansa baru dalam musik angklung. Demikian pula Udjo Ngalagena yang banyak memberikan perhatian dalam pelestarian dan pendidikan musik angklung tertuama untuk generasi muda. Gamelan Jawa dengan sistem sariswara oleh K. H. Dewantara dan Ki Nartosabdo sebagai tokoh pembaharu dalam lagu-lagu gamelan yang dikenal dengan sistem wandali (Jawa, Sunda, Bali). E. Bentuk Instrumen 
Instrumen musik tradisional sangat banyak macamnya. Selain dibagi menurut sumber bunyinya, alat musik daerah bisa dipilah-pilah berdasarkan bentuknya. Misalnya seperti di bawah ini. Bentuk tabung merupkan bentuk umum dari alat musik yang memakai bahan dasar bambu. Bahan bambu ini dapat diganti dengan kayu atau logam. Instrumen yang termasuk dalam bentuk tabung misalnya calung, angklung, kentongan/kulkul, suling/saluang, dan guntang.

Dalam instrumen bentuk bilah, kekuatan bunyinya perlu didukung oleh wadah gema sebagai ruang resonator. Permukaan bilah dapat berupa bidang rata, cembung, bahkan irisan bentuk tabung. Contoh alat musik berbentuk bilah adalah gambang, kolintang, saron, demung, dan gender.
Alat musik bentuk pencon, memiliki pencu (Jawa), yaitu bagian yang menonjol dari suatu bidang datar atau yang dianggap datar. Pencu dimaksudkan sebagai tumpuan pukulan. Pada umumnya alat ini terbuat dari logam. Di negeri kita alat musik jenis ini cukup banyak. Yang menarik adalah alat sejenis ditata dengan sistem nada dan penyusunan yang berbeda-beda pada tiap daerah. Misalnya bonang (Jawa dan Sunda), trompong (Bali), kromong (Betawi), talempong (Minang), totobuang (Ambon), dan Kangkanong (Banjar).


Masih banyak instrumen daerah bentuk lain yang tidak dapat dimasukkan dalam kelompok-kelompok di atas karena memang tidak memiliki ciri kesamaan bentuk. Bahkan, beberapa alat musik seringkali mempunyai bentuk yang benar-benar khas, misalnya siter/celempung, tarawangsa, rebab, dan popondi/tolindo.

F. Lagu Daerah 
Dengan menyanyikan lagu-lagu daerah, akan terbentuk sikap cinta pada tanah air. Lagu-lagu daerah tentu saja menggambarkan budaya masyarakat pendukungnya yang akan selalu dikenang sepanjang hidup. Lampiran lagu-lagu daerah:







1 komentar:

  1. Indonesia negaraku yang sangat kaya seni dan budaya.

    BalasHapus